Malang, Keluarga Miskin di Palangka Raya Ini Tinggal di Lanting yang Hampir Roboh

PAMBELUM, Palangka Raya– Sungguh malang nasib Oto Rahmad alis Buyung (60 tahun). Dia bersama sang Istri Rosmaniah (52 tahun) serta dua orang anaknya Hamdan (15 tahun) dan Imam (12 tahun) terpaksa harus hidup disebuah lanting (rumah terapung) yang tidak layak huni.

Yang lebih memprihatinkan warga Kelurahan Bereng Bengkel Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya ini, harus hidup selama bertahun-tahun dengan kondisi yang memprihatinkan.

Untuk gambaran tempat tinggal mereka sendiri atapnya terbuat dari jerami dan itupun sudah banyak yang bocor. Bila hujan turun, mereka hanya bisa pasrah. Apalagi bila hujan turun saat malam hari, mereka berempat terpaksa tidak tidur semalaman.

Bacaan Lainnya
Rahamnto

Dinding rumah mereka sendiri kondisinya sudah banyak terdapat tambalan menggunakan karung beras, sementara lantai rumah mereka yang terbuat dari kayu telah banyak yang lapuk.

Saat ditemui di rumahnya, Buyung mengatakan, dirinya sudah pernah mengajukan usulan ke Kelurahan Bereng Bengkel agar mendapat bantuan bedah rumah tapi tidak mendapat respon.

“Pernah mengajukan usulan agar dibantu bedah rumah, tapi ditolak oleh Lurah.  Kata Lurah karena saya tinggal di lanting, jadi tidak bisa masuk program bedah rumah, karena tidak punya tanah,”tutur Buyung.

Buyung menambahkan, untuk makan sehar-hari saja dirinya sudah kesulitan apalagi bila harus membeli tanah. ” untuk makan saja susah, bagaimana mungkin saya bisa membeli tanah,” tambahnya, Senin (5/3/2018) kemarin.

Buyung dan keluarga hanya bisa pasrah karena harus hidup dengan serba kekurangan. Pekerjaan mereka sebagai pencari ikan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bila laku, ikan tangkapan mereka bisa dijual dengan harga antara 15 ribu hingga 30 ribu rupiah.

Hasil itulah yang mereka gunakan untuk membeli beras dan berbagai kebutuhan lainnya. Namun tak jarang keluarga Buyung pulang dengan tangan kosong.

“Bila laku bisa buat beli beras. Bila dapat 15 ribu, beli beras sekilo trus dibagi buat dua atau 3 hari. Kalau lebih bisa buat beli minyak goreng atau keperluan lainnya. Kalau tidak dapat ikan atau tidak laku, ya puasa,” ujarnya.

Hamdan, anak tertua Buyung pun terpaksa berhenti sekolah karena tidak ada biaya dan terpaksa membantu orang tua bekerja. Buyung berharap ada pihak yang bisa membantunya untuk renovasi agar rumahnya layak huni.

“Semoga Pemerintah atau ada calon Walikota yang sedang kampanye bisa membantu saya memperbaiki rumah. Karena rumah ini sudah mau roboh dan tak layak huni,” jelasnya penuh harap.(Beben/Red1)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.